"Sagulung-Sagalang Maju Babarengan"


Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Mesjid

17/02/2010 00:24

Pemberdayaan komunitas adalah proses membangun kembali struktur komunitas insani dimana cara-cara baru untuk berhubungan antar pribadi, mengorganisasikan kehidupan sosial, ekonomi dan memenuhi kebutuhan insani menjadi lebih dimungkinkan.

 

Konsep pemberdayaan ini menjadi penting karena dapat memberikan perspektif positif terhadap orang yang lemah dan miskin. Komunitas miskin tidak dipandang sebagai komunitas yang serba rentan dan kekurangan (kurang pendapatan, kurang sehat, kurang pendidikan, kurang makan, kurang dinamis dan lain-lain) dan hanya menjadi objek pasif penerima pelayanan, melainkan sebuah komunitas yang memiliki beragam potensi dan kemampuan yang dapat diberdayakan untuk a) memiliki akses terhadap sumber-sumber produktif yang memungkinkan untuk melanjutkan sistem mata penghidupannya, dan b) ikut berpatisipasi dalam proses pembangunan, kegiatan sosial dan mandiri dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya serta keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka. Kegiatan pemberdayaan komunitas dalam hal ini umat Islam (mustahik) dapat dilakukan melalui pendampingan dengan memberikan motivasi, meningkatkan kesadaran, membina aspek pengetahuan dan sikap meningkat-kan kemampuan, memobilisasi sumber produktif dan mengembangkan jaringan.

Proses-proses pemberdayaan komunitas miskin pasca bencana melalui pendampingan tersebut secara langsung dapat dilakukan oleh pengelola masjid. masjid dapat merupakan salah satu bagian dari pengembangan partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan pengentasan kemiskinan umat khususnya di daerah bancana.
Rasulullah mengajarkan bahwa masjid tidak hanya memiliki fungsi sebatas sebagai pusat kegiatan ibadah namun juga berfungsi sebagai tempat pendidikan dan pengajaran, pusat informasi Islam, pusat kegiatan ekonomi serta pusat kegiatan sosial dan politik serta pusat kegiatan dakwah bagi umat Islam.

Masjid berperan besar bagi umat dalam melakukan perubahan nilai-nilai kehidupan dalam pengamalan beragama dan pembinaan umat melalui program kesalehan sosial dan ekonomi yang meliputi semangat spiritual yang diwujudkan jamaah masjid mempunyai kepedulian sosial yang diwujudkan dalam pemberian zakat, infak dan sedekah, mempunyai sikap toleran dan kerelawanan dan membantu saudara-saudaranya yang terkena musibah. masjid adalah tempat membina keutuhan ikatan jamaah dan kegotongroyongan di dalam mewujudkan kesejahteraan bersama. masjid tempat melaksanakan pengaturan dan supervisi sosial.

Fenomena baru di perkotaan, yang menunjukkan sebagian masjid telah menunjukkan fungsinya sebagai tempat ibadah, tempat pendidikan, tempat pemberdayaan ekonomi umat, dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Dengan demikian, keberadaan masjid memberikan manfaat bagi jamaah dan masyarakat lingkungannya khususnya yang terkena musibah misalnya bencana alam.

Upaya peningkat kesejahteraan masyarakat dan komunitas miskin pasca bencana, khususnya di wilayah pinggiran kota dan pedesaan dapat dilakukan dengan menggiatkan pengelola masjid-masjid untuk berperan lebih aktif dalam kehidupan jamaah dan masyarakat di lingkungan masjid menangani pemulihan kondisi masyarakat pasca bencana dengan manajemen kebencanaan (disaster management) melalui kegiatan pemberdayaan (empowerment) dan strategi pendampingan dengan menggunakan dakwah Islam kepada masyarakat setempat sebagai mekanisme perubahan sosial dan peningkatan motivasi komunitas miskin pasca bencana untuk kembali berdaya dalam berusaha sehingga dapat mempercepat perubahan sosio-ekonomi di wilayah-wilayah masjid tersebut berada.

Kelompok dampingan sebagai salah satu lembaga otonom yang dinisiasi dan ditumbuhkan memiliki core activity pada kegiatan program pemberdayaan masyarakat melalui strategi pendampingan berbasis kelompok (based on community) di berbagai wilayah perkotaan, pedesaan, pesisir dan daerah bencana. Sebelum menentukan program pemberdayaan ekonomi, melakukan survey dan kajian kebutuhan (need assesment) komunitas sasaran melalui metode observasi, wawancara, FGD, PRA dan RRA.
Kajian tersebut menjadi dasar bagi kelompok dampingan untuk merencanakan dan menyusun program pemberdayaan sesuai masalah dan kebutuhan dari komunitas sasaran (targetgroup).Implementasi program yang dilakukan meliputi 3 fase yaitu 1) tahap penumbuhan dan pembentukan kelompok, 2) tahap penguatan dan 3) tahap pelepasan program.

D. Kondisi masjid dan ekonomi jamaah saat ini

Karakteristik masyarakat yang egaliter tidak membuat masjid ini melahirkan figur panutan seperti keberadaan masjid dan pesantren di tanah Jawa. Menurut pengakuan salah seorang pengurus, masjid tidak melahirkan figur ulama tapi mengorbitkan ulama. Cuma daya tarik masjid ini memunculkan ulama yang terkenal dan berbobot.

Kegiatan dakwah masjid ini berkomunikasi secara efektif dan materi dakwah yang berbobot. Umumnya para dai, dan lain-lain mampu melakukan mobilisasi dan mempengaruhi massa dengan menggunakan kemasan bahasa yang indah, menarik, dan retorik, namun kenyataannya secara institusi telah mampu melakukan transformasi sosial keagamaan bagi masyarakat, sehingga masjid ini menjadi rujukan orang-orang Islam di berbagai daerah Indonesia seperti Sumatera Barat terutama kalangan umat secara umum. Ini berarti telah terjadinya perubahan persepsi dan image masyarakat muslim dan sekitarnya yang semula tertuju pada popularitas basis-basis Islam yang telah mapan sebelumnya. masjid lebih suka berperan mengajak umat secara intelek kepada orang lain untuk melakukan amar makruf nahi mungkar.

Misi yang diemban pendirian masjid secara umum adalah membangun fasilitas beribadah secara global dengan masyarakat yang sangat familier, sehingga bisa dipahami bahwa visi para pencetus dalam membangun masjid ini tidak terbatas pada sebuah lembaga yang dibatasi oleh bangunan fisik dalam bentuk bangunan masjid, tetapi lebih mengupayakan upaya pemberdayaan ekonomi umat secara keseluruhan menjadi potensi ekonomi umat. Hal ini tampak dengan adanya penempatan lokasi masjid yang kebetulan berada di lokasi menyebar dan berbaur dengan pusat perdagangan dalam radius yang tidak terlalu jauh antara satu sama lain.

Contoh kasus di Kabupaten Agam adapun potensi yang dimilikinya masjid-masjidnya adalah Di samping tempat ibadah, pengurus masjid juga membuka lembaga-lembaga pendidikan yang sifatnya formal dan informal di antaranya :1) Madrasah Diniah Awaliah (MDA) (2) Kelompok Bimbingan Jamaah Haji (KBIH) (3) Taman Kanak-Kanak Raudlatul Athfal (4) Kelompok-Kelompok pengajian yang terdiri dari forum diskusi takmirul masajid (5) Kelompok Majlis Taklim.

Saat ini, agaknya kesemarakan Islam bisa dirasakan di seluruh masyarakat, dengan melihat banyaknya aktivitas yang tersebar dan disertai keaktifan jamaah dalam menggunakannya sebagai tempat shalat berjamaah dan wirid-wirid. Lebih lanjut, perbedaan latar belakang jamaah dan pengetahuan agama Islam ini mempengaruhi munculnya kelompok pengajian (bapak-bapak) yang berbeda, meski bisa bertemu dalam beberapa kesempatan.

Ada kelompok pengajian majlis taklim yang dilakukan tiap selasa dan jumat pagi.. Jamah ini didominasi oleh kaum perempuan dari berbagai usia tapi didominasi oleh kaum tua. Sedangkan tiap minggu juga ada wirid atau diskusi yang membicaeakan persoalan agama. Bahkan setiap menjelang salat dan sesudah salat fardu diadakan pengajian rutin. Perbedaan dan potensi ini mengesankan berbagai kegiatan yang diadakan pengurus ada menyimbolkan kemampuan yang masih sangat minim dalam pengetahuan agama Islam. Namun demikian, dalam beberapa kesempatan, dengan digerakkan oleh tokoh masyarakat yang dekat dengan masyarakat, kelompok-kelompok pengajian tersebut dapat dikumpulkan menjadi satu. Dan bahkan, jamaah pengajian ibu-ibu ternyata menjadi satu dan tidak terbagi menjadi beberapa kelompok seperti pengajian bapak-bapak.

Jika dilihat dari aspek ekonomi, jamaah tetap didominasi oleh petani dan pedagang. Sebagaian kecil adalah pendidik dan tokoh masyarakat umumnya mereka adalah pengelola dan pengurus masjid. Namun demikian, kalau dihitung, penghasilan jamaah cukup beragam dan bahkan terjadi kesenjangan yang cukup tajam.

Berkenaan dengan pengumpulan zakat baik zakat maal dan zakat fitrah, satu sisi pengumpulan zakat atau yang mempercayakan zakatnya ke masjid cukup banyak, di lain pihak para penerima zakat juga banyak. Hal ini mungkin disebabkan oleh jamaahnya dari berbagai penjuru sehingga masyarakat menumpahkan harapannya kepada masjid.

Sementara itu, dari aspek sosial budaya jamaah masjid memiliki adat yang tidak lepas dari tradisi Minangkabau, peringatan khatam Quran setiap tahun (sebulan sebelum puasa) selalu diperingati dan dimeriahkan dan mengikuti tradisi sekitarnya. Hal ini dilakukan secara mentradisi, dimulai dengan pawai alegoris. Acara tersebut dilakukan dan didukung oleh masyarakat sekitar masjid yang pada saat ini membutuhkan dana yang cukup besar dan melibatkan seluruh unsur masyarakat sekitas dalam kepanitiaannya. Secara budaya tidak ada yang mencolok dalam aktivitas sosial masjid ini, tidak seperti tradisi yang ada pada jamaah masjid di daerah, secara tradisional masih menerapkan batagak kudo dan acara tarekat-tarekat. Tapi karena masjid ini terletak di pusat kota dan dihuni oleh berbagai macam budaya, tradisi-tradisi tersebut tidak menjadi perhatian.

E. Kondisi umat Islam dan pemberdayaan berbasis masjid
 
Pada saat pendiriannya pengurus masjid bersama masyarakat sekitar langsung melakukan dakwah dan membangun fasilitas ibadah. Kemudian pada tahun-tahun berikutnya mulai mengajak beberapa local leader dari jamaah masjid untuk menggerakkan masyarakat bersama-sama melakukan dakwah dan pengembangan masjid. Pada masa-masa ini para pengurus berusaha keras mengembangkan.

Adapun dari aspek sosial ekonomi, keberadaaan masjid dan jamaahnya, masih ditemukan jurang pemisah antara pedagang kaya dan pengemis atau peminta-minta yang menjalani kehidupan di halaman masjid dengan pakaian compang camping. Pedagang kaya yang mampu membiayai sampai puluhan juta aktivitas masjid dengan kekayaan yang dimilikinya. Sementara di pihak lain, sebagaimana lumrah terjadi di perkotaan, pembangunan dan fasilitas kota yang amat atraktif ini telah menjadi gula bagi semut penduduk di daerah yang berduyun-duyun berdatangan untuk mengadu nasib mereka di kota.

Adanya jurang pemisah yang demikian dalam aspek sosial ekonomi, akibat tidak ada kepedulian kemanusiaan yang membuat solidaritas sosial memudar, ekonomi umat diharapkan menjadi pola relasi yang di dalamnya terdapat keseimbangan hidup antar satu dengan lainnya. Tidak sedikit hasil yang diperoleh dari uisaha ini, dia pergunakan untuk mengentaskan dan menyelesaikan problem yang dihadapi masyarakat, seperti kesulitan biaya hidup untuk sekolah, warga yang dililit hutang, seseorang yang kesulitan makan di hari itu, hingga untuk berobat di rumah sakit, dan lain-lain.

Bila diamati dari aspek sosial keberagamaan, daerah tempat masjid berdiri, sebagian besar berkategori daerah kuat adat dan agamanya. Sayangnya, kemegahan nama dan fisik bangunan masjid itu terasa jauh dibanding aktifitas yang ada di masjid.. Mayoritas masyarakatpun sebenarnya termasuk pemeluk Islam yang antusias.

Diakui atau tidak, geliat keislaman memang masih sepi, kecuali sejumlah kegiatan keislaman tradisional yang memang sudah rutin diadakan masyarakat. Mungkin bukan karena masyarakat dan jamaah enggan untuk mempelajari Islam, melainkan lebih kepada kemasan Islam yang ditampilkan sangat monoton, hingga terkesan masyarakat yang datang jenuh. Menurut mereka persoalan perut lebih mendesak dari pada mendalami Islam. Paling tidak ini pe-er bagi bagi masyarakat muslim untuk menampilkan dakwah yang memberikan pencerahan terutama dalam aspek ekonomi umat. Tentu saja, dalam konteks pemberdayaan ini, apabila tidak menggunakan pendekatan keagamaan dan kemanusiaan (human approach) dalam pemberdayaan masjid dan masyarakat jamaah, tentu saja tidak akan terjadi keberhasilan dalam perubahan sosial.

Langkah pertama yang ditempuh dalam menjalankan pengembangan ekonomi masjid adalah mengumpulkan para donator yang biasa menyerahkan zakat, infak dan shadaqahnya melalui masjid. Namun bukan hanya tertuju pada orang-orang tertentu, tetapi seluruh warga masyarakat terutama kaum dhuafa. Pihak masjid selalu mendata dan mengiventaris kaum dhuafa yang berhak menerima zakat dan memantau perkembangan ekonomi mereka.

Orang kaya, karena kekayaan yang dimiliki selama ini membantu kegiatan terutama untuk menunjang pembangunan yang bersifat fisik. Tapi pengurus berusaha lebih mengembangkan zakat, infak dan shadaqah dijadikan soko guru pengentasan kemiskinan. Karena zakat memiliki fungsi sosial ekonomi yang sangat vital bagi masyarakat muslim.

Zakat juga memiliki fungsi penyelaras pendapatan di tengah masyarakat (income equilibrum) yang didahului oleh kerja dan aktivitas ekonomi yang tercermin dalam proses produksi, distribusi, perdagangan dan jasa. Menurut Yusuf Qhardhawi, (1999:24) posisi pertama pengentasan kemiskinan disandang oleh bekerja. Yaitu suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang baik sendiri maupun bersama-sama untuk memproduksi suatu komoditi, berdagang atau memberikan jasa dalam pengertian seluas-luasnya.

Selanjutnya figur pengurus masjid dan tokoh masyarakat juga sangat berpengaruh dalam pengembangan sumberdaya jamaah. Tokoh masyarakat melalui masjid dan pesantren-pesantren yang sudah berdiri puluhan tahun bahkan ratusan tahun yang sudah mengakar bagi jamaah dapat dijadikan sebagai agent of change dan mitra kerja pemerintah dalam pemberdayaan ekonomi umat. Sehingga bila jamaah dan umat secara ekonomi, moral dan didukung dengan sarana dan prasarana serta kebijakan pembangunan dan regulasi yang baik dari pemerintah, maka diharapkan tidak perlu lagi terjadi ketimpangan pembangunan yang mengarah pada urbanisasi yang tidak terkendali dengan berbagai efek negatifnya. Pihak yang memiliki kemampuan mengelola keberagamaan masyarakat, baik ke-ilmu-annya maupun amalnya ditekankan untuk diwujudkan dalam nilai-nilai dan akhlak mulia. Keikhlasan dan tawakkal, sebagai kunci keberhasilan dalam mengelola masjid, mushalla, atau pesantren.

Terkait dengan potensi ekonomi masjid, sekarang ada beberapa unit usaha jamaah masjid yang antara lain adalah:

1.    Koperasi Simpan Pinjam antar pengurus. Ada upaya di antara sesama pengurus untuk mengatasi kebutuhan harian dan saling membantu mereka bermufakat mendirikan koperasi simpan pinjam. Koperasi untuk kalangan intern ini sekalipun belum punya badan hukum tapi eksistensi koperasi ini cukup membantu kebutuhan pengurus.

2.    Wartel. Kebutuhan informasi dan telekomunikasi saat ini, ditambah tempat yang strategis membuat keberadaan warung telekomunikasi ini sangat dibutuhkan masyarakat. Cuma persoalan sekarang, perkembangan teknologi yang kian pesat, wartel tidak diminati lagi dengan adanya ponsel atau telepon genggam. Usaha ini mengalami kemunduran.

3.    WC Umum. Jasa yang satu ini sangat dibutuhkan masyarakat apalagi apabila masjid berada di lokasi keramaian pasar. Pengurus beriniasiatif menyediakan WC umum yang cukup representatif Usaha jasa ini sangat menguntungkan dan meraup keuntungan yang berlipan ganda.
 
4.    Penitipan Sandal dan Sepatu. Jasa yang satu ini juga lahan potensi ekonomi yan g sangat potensial kalau dimanag secara bagus dan profesiaonal. Terbukti infak yang terkumpul pertahunnya mencapai jutaan rupiah.

5.    Arisan Jamaah Majlis Taklim. Ada inisiatif dari jamaah wirid majlis taklim untuk mengadakan arisan. Hal ini masih berjalan dan perputaran uang pada sekali putaran mencapai puluhan juta.

6.    Toko milik masjid. masjid telah mengembangkan toko sebagai sarana pengembangan modal pembiayaan masjid .

7.    Jasa ambulan. Jasa ini juga sangat dibutuhkan dengan perkembangan masyarakat dan berbagai sektor.
 Permasalahan yang ditemukan kemudian, terbaca dari keberadaan unit usaha seperti jumlah jamaah dengan berbagai potensinya, jasa penitipan sandal, WC umum, laserda (lapau serba ada)dan usaha wartel serta jasa ambulance merupakan potensi ekonomi yang dimiliki masjid. Potensi ini merupakan suatu kekuatan yang secara ekonomi dimiliki oleh masjid namun belum digarap atau telah digarap tapi belum secara maksimal. Hal ini karena telah terjadi polarisasi jamaah yang cukup tajam seperti dijelaskan di muka. masjid tidak lagi dipandang secara utuh sebagai institusi milik umat, namun menjadi institusi yang dimiliki segelintir orang yang berdiri terpisah dari masyarakat atau jamaah dan berjalan sendiri. Demikian juga, masjid tidak lagi dipandang sebagai sebuah komunitas secara luas dan berjalan sendiri secara alami. Pandangan ini mungkin masih menjadi sebuah gejala, namun dalam kenyataannya, gejala yang muncul semakin banyak.

Tanpa pretensi untuk mencari-cari kesalahan pada beberapa orang dan beberapa elemen pengurus dan tokoh masyarakat, memang kemudian ada beberapa hal terbaca menjadi penyebab dari hal tersebut, yang antara lain adalah lemahnya kepedulian pengembangan masjid terhadap jamaah dan masyarakat dan persoalannya. Hal lain yang kemudian terbaca adalah adanya sikap minder, dan sedikit antipati masyarakat untuk bergabung dengan institusi masjid dalam penyelesaian persoalan bersama sebagai akibat adanya perbedaan pola keberagamaan serta perbedaan tingkat sosial ekonomi antar jamaah yang masuk ke dalam institusi masjid. Masih ditambah lagi dengan beberapa intervensi dari beberapa pihak yang pesimis dengan upaya pengembangan ekonomi masjid.

 

—————

Back